Tampilkan postingan dengan label Energy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Energy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Januari 2010

blue

Dokumen >>> cahyamars2008






Bagaimana bila masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya diberi pilihan untuk tidak bergantung lagi pada minyak bumi sebagai bahan bakar penghasil energi? Terlebih dengan isu-isu pemanasan global, dampak rumah kaca dan krisis minyak yang kian hari kian nyata dirasakan. Belum lagi semakin mengganasnya tuntutan memperoleh energi dalam jumlah besar, baik untuk keperluan konsumsi ataupun pembangunan yang juga terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dunia.
Sudah banyak upaya yang dilakukan ilmuwan untuk mendapatkan berbagai sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan tentu saja dapat diperbarui. Akan tetapi sampai sekarang, belum terbukti ada yang bisa diproduksi secara massal dan masuk akal secara ekonomis, sehingga bisa digunakan oleh khalayak luas.
Sebuah studi yang dilakukan oleh sekelompok peneliti Indonesia telah menunjukkan hasil awal yang menjanjikan bagi masyarakat dunia, terutama Indonesia yang memiliki sejumlah besar sumber energi alternatif yang bersih dan dapat diperbarui. Studi ini telah menghasilkan suatu sumber energi alternatif yang disebut Blue Energy atau Minyak Indonesia Bersatu (MIB).

Apakah Blue Energy itu ?

Istilah Blue Energy untuk menamai sumber energi baru ini dicetuskan sendiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menaruh harapan sangat besar pada proyek ini. Menurut SBY, istilah Blue Energy beliau gunakan untuk mengkategorikan energi yang masih memancarkan atau mengeluarkan emisi karbon. Sehingga setiap energi yang masih memanfaatkan Carbon Based with Combustion (rantai karbon dengan mesin bakar) akan masuk kategori Blue Energy.

Jadi seperti apa sebenarnya wujud dari Blue Energy ini?
Sampai saat ini memang masih banyak yang salah paham, bahwa yang dimaksud dengan Blue Energy adalah bahan bakar air. Padahal yang sesungguhnya terjadi, air hanya akan diambil unsur hidrogennya saja sebagai bahan pembuat synfuel.
“Pada prinispnya Blue Energy atau MIB adalah bahan bakar sintetik atau biasa disebut synfuel, yang dibuat dari substitusi molekul hidrogen pada rantai karbon. Proses pembuatannya pun sebenarnya mengadaptasi proses pembentukan minyak fosil di dalam bumi”,demikian ungkap Iswahyudi, CEO PT Sarana Harapan Indocorp (SHI) yang nantinya akan memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan Blue Energy ini. “Jadi ada dua unsur, hidrogen dan karbon sebagai bahan dasar.” Seperti minyak bumi biasa.
Hidrogen dapat diperoleh diantaranya dari air daratan (deep water, sungai, danau, dan lain-lain), air laut , dan air formasi. Air formasi adalah air buangan sisa pengeboran sumur minyak, air sisa dari separator dan water injection. Termasuk di sini air limbah dari Lapindo (bukan lumpurnya). Bahan yang digunakan dalam proyek Blue Energy ini adalah air laut, dengan pertimbangan resourcesnya yang tak terbatas dan tentu saja mengambil air laut tidak akan mengganggu cadangan air. Untuk mendapatkan hidrogen dari air laut dilakukan ‘pemecahan air’ (water splitting) Air sejumlah 2000 liter ditambah antara 3-8 kg karbon dapat menghasilkan 1600 liter Blue Energy.
Sementara itu, karbon dapat diperoleh dari bermacam-macam bahan, seperti kayu atau sisa-sisa kayu, arang, batubara, hasil dari carbon capture cerobong industri-industri yang dilarutkan ke dalam air, bisa juga dari air formasi sumur-sumur minyak yang sudah ditinggalkan karena dianggap sudah tidak ekonomis. Tim Blue Energy sendiri sampai saat ini menggunakan karbon kimia yang mudah didapat dan cukup ekonomis juga“. Sebenarnya kalau mau efisien dan juga lebih ramah lingkungan, kita bisa memakai carbon capture. Tetapi alatnya masih harus impor, karena belum ada orang Indonesia yang mau bikin. Sedangkan kita ingin MIB ini sebisa mungkin benar-benar murni hasil karya putra-putra bangsa”, lanjut Iswahyudi, lulusan tercepat Teknik Geologi FT UGM angkatan 1988 itu.
Kita ingin MIB ini benar-benar murni hasil karya putra-putra bangsa






Pembentukan Minyak dan Blue Energy

Selama ini sering kita dengar bahwa proses pembentukan minyak fosil yang ada di dalam bumi memerlukan waktu jutaan tahun. Benarkah demikian? “ Coba sebut geologist mana yang pernah melihat langsung atau membuktikan secara pasti bahwa proses atau reaksi pembentukan minyak itu butuh waktu jutaan tahun”, ujar Iswahyudi menantang sembari menambahkan “lha wong, terjadinya saja sekitar 12000 feet atau 4000 m di dalam bumi”.
Reaksi pembentukan minyak terjadi di suatu tempat yang dalam bahasa geologi dikenal dengan nama kitchen. Tempat di kedalaman bumi itu memiliki kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi antara karbon dan hidrogen, yang merupakan dasar pembentukan minyak. Setelah reaksi dan terbentuk di kitchen, minyak masih akan mengalami migrasi menuju di suatu tempat yang disebut trapping mechanism, di mana minyak biasa ditambang.
Lebih lanjut Iswahyudi menjelaskan “Menurut saya, yang jutaan tahun itu bukan proses terjadinya minyak, tetapi proses tertimbunnya ‘calon minyak fosil’ ribuan meter ke dalam bumi supaya mendapatkan kondisi geologi yang tepat di kitchen, dan secara fisika tercapai suhu, tekanan dan kondisi-kondisi fisis tertentu agar dapat terjadi reaksi antara hidrogen dan karbon”.
Dia menyebutkan Candi Borobudur dan Kerajaan Kutai sebagai pengandaian. Sekarang Borobudur dan Kutai sudah berusia sekitar 2000 tahun atau bahkan lebih, dan bagian yang sudah mulai tertimbun hanyalah sekitar satu meter saja. Maka waktu yang dibutuhkan untuk bisa tertimbun sedalam 4000 m bisa diperkirakan mencapai jutaan tahun.
“Dan buktinya, kita sudah mencoba dan berhasil mereaksikan hidrogen dan karbon dalam waktu yang singkat”, katanya ringan.
Memang di dunia sudah banyak yang berhasil menciptakan synfuel dengan bahan dasar air. Akan tetapi hingga sekarang, tidak ada yang diproduksi secara massal dan dapat digunakan secara umum oleh masyarakat. Hal ini terutama disebabkan oleh cost produksinya yang sangat mahal, dan tentu saja isu efisiensi antara energi yang diperlukan pada proses pembuatan synfuel dan energi yang dapat dihasilkan oleh synfuel itu sendiri.
Pemisahan hidrogen dari air (water splitting) menjadi isu tersendiri, mengingat selama ini H2O dikenal sebagai senyawa yang stabil. “Orang bilang elektrolisis mahal, tapi dengan cara kita, itu jadi murah”, tutur Iswahyudi.
Problematika yang juga selama ini masih menjadi puzzle bagi para peneliti adalah, bahwa reaksi yang terjadi dalam pembentukan synfuel ini adalah reaksi endoterm. Dengan kata lain, reaksi ini memerlukan energi agar dapat terlaksana. Pada proses pembentukan minyak fosil di alam, energi ini bisa datang dari panas bumi. Tentu saja energi ini harus murah. Karena akan menjadi sama saja jika yang digunakan masih dari sumber-sumber konvensional yang kita kenal sekarang.
“Mahal dan murah itu masalah efisiensi. Energi yang biasa kita pakai, dalam hal ini sebagai contoh yang paling mudah dan dekat adalah listrik, sangat tidak efisien. Suatu pembangkit membutuhkan 8 step dari mulai pembakaran sampai akhirnya terjadi loncatan elektron dari coil. Bayangkan jika setiap step rata-rata memiliki efisiensi 0,6. Maka efisiensi total yang akan diperoleh adalah (6 x 10-1)8. Kecil sekali bukan?” Masih menurutnya lagi “Tentu saja kita tidak akan menggunakan model energi yang seperti itu. Kalau saya bisa memotong 8 step itu menjadi 1 step saja, berarti saya mendapatkan efisiensi yang kira-kira 107 kali lebih besar bukan? Jika bicara tentang listrik, sebenarnya itu kan loncatan elektron. Dan jika kita bisa menangkap loncatan itu, ya kita punya listrik.
Mudahnya, kita memiliki teknologi untuk menangkap elektron-elektron yang meloncat dari material”. Pada kesempatan lain, dia menambahkan, dengan metode yang lebih efisien dia berani menghargai listrik Rp.75,00 saja per kwh, dan itupun dia sudah bisa tersenyum karena dengan harga itu dia sudah untung
Mahal dan murah itu masalah efisiensi. Energi yang biasa kita pakai, dalam hal ini sebagai contoh yang paling mudah dan dekat adalah listrik, sangat tidak efisien
Energi yang diperlukan untuk terlaksananya reaksi ini memang penting. Akan tetapi ada satu hal yang menurut Iswahyudi tak kalah pentingnya, yaitu bagaimana menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya reaksi tersebut pada energi tertentu atau dengan kata lain merekonstruksi keadaan di kitchen. Termasuk dengan menambahkan katalisator yang diperlukan. “ Jangan khawatir, katalisatornya pun banyak kog, dibuang-buang, cari di pasar juga banyak itu”, kata Iswahyudi sambil bercanda.
Saat ini produk yang sudah dihasilkan oleh Tim Blue Energy ini adalah kerosene (K-99) yang setara dengan minyak tanah, diesel (D-99, D-99 bio, dan D-99 Plus dengan Cetane di atas 55) yang setara dengan solar, gasoline (G-99, G-99 bio, dan G-99 Plus dengan Oktan 98) yang setara dengan bensin, dan juga heating oil atau minyak bakar (H-99).
Sebagai catatan, semua proses yang dilakukan, dari bagaimana mendapatkan energi sampai reaksi-reaksi yang terjadi, secara teori sudah ada di ilmu fisika dan kimia dasar.

Performa Blue Energy

Pada Minggu sore tanggal 25 November 2007 yang lalu, rombongan kendaraan berbahan bakar Blue Energy berangkat dari kediaman SBY di Puri Cikeas Indah. Tujuan dari rombongan ini adalah Bali, di mana mereka akan mengikuti eksebisi clean air, clean fuel and clean vehicle berkaitan dengan diselenggarakannya Konferensi Internasional Climate Change pada tanggal 3-14 Desember 2007. “Keikutsertaan kita adalah untuk menunjukkan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi, khususnya mengenai bahan bakar”, kata Heru Lelono, staf ahli presiden, yang menjadi ketua tim pada waktu itu.
Jenis mobil yang masuk dalam tim antara lain dua Ford Ranger 2500 cc, satu Isuzu Panther 2500 cc diesel, satu Mazda Familia 1800 cc serta satu Bus Mitsubhisi 4000 cc“. Seluruh mobil itu bisa sampai di Denpasar, dan langsung dicek di bengkel yang dilengkapi dengan alat uji emisi dari PBB. Hasilnya, seluruh mobil dalam kondisi yang sangat baik”, jelas Heru. Pada kesempatan yang lain, Tim Warta Teknik juga berkesempatan menjajal langsung Mazda Familia yang menggunakan bahan bakar G99, dan tidak merasakan adanya perbedaan performa dengan kendaraan yang memakai bahan bakar bensin biasa. Kendaraan ini sudah memakai Blue Energy sejauh kira-kira 4000 km, dan tidak menemui masalah dengannya.
Tim ekspedisi Blue Energy juga pernah mencoba menggunakan D99 pada mesin Diesel di Dataran Tinggi Dieng yang terkenal sangat dingin dan bisa membekukan solar. Semalaman di sana paginya ternyata langsung bisa di start.
Berikut ini hasil tes yang dilakukan oleh beberapa lembaga independen yang telah mendapat pengakuan internasional seperti SGS, Corelab, dan Envirolab.
Tabel di atas bukan hasil tes final. Riset masih terus berjalan untuk penyempurnaan. Saat berita ini ditulis, baru saja ditemukan metode untuk memisahkan sulfur dari diesel. Dan D-99 generasi ke 14 dari riset ini benar-benar jernih.[bma]

Jumat, 08 Januari 2010

Net

disalin dari >>> sarimingeek.com
Indonesia termasuk kategori negara yang paling boros menggunakan energi listrik yang terbukti dengan sering terjadinya pemadaman listrik secara bergilir oleh PLN.

Dari segi penataan instalasi jaringan listrik pun kita tergolong masih mengkesampingkan keselamatan orang lain, memang sekarang ini penataan jaringan listrik masih terbilang sangat sedikit dan masih wajar-wajar saja akan tetapi bagaimana jadinya bila itu terlihat di 10 atau 15 tahun mendatang?

akankah PLN akan membuat installasi listrik seperti gambar dibawah ini?












SOLAR CELL

disalin dari >>> cahyamars2008 

Di bawah ini ialah paparan singkat mengenai hal-hal umum yang turut berkontribusi pada harga sel surya yang pada akhirnya dibebani kepada konsumen.

1. Biaya produksi pembuatan sel surya.

Jika kita melihat proses pembuatan sel surya dengan mengambil contoh sel surya silikon yang menempati 90% pangsa pasar sel surya saat ini, maka terlihat adanya proses produksi yang melibatkan modal besar (high capital), yakni industri semikonduktor. Industri semikonduktor ini masih merupakan industri padat modal karena bersandar pada pembuatan dan penyediaan silikon, lebih tepatnya wafer silikon. Sejatinya, silikon sendiri ialah elemen terbanyak kedua di kulit bumi setelah oksigen, sehingga harganya relatif rendah.
Hanya saja, dengan kebutuhan industri semikonduktor yang meminta kadar kemurnian silikon sangat tinggi, sekitar 1 bagian per milyar (1 ppb), biaya pemrosesan silikon untuk semikonduktor menjadi berlipat-lipat. Proses pembuatan silikon sejak dari penambangan, pemurnian dan pemotongan inilah yang memilki andil sekitar 65% dari total harga sebuah sel surya. Data tahun 2004 mengenai harga silikon dunia dengan kadar tersebut kira-kira US$ 50/kg dan terus meningkat dikarenakan adanya permintaan industri semikonduktor maupun elektronik. Pemrosesan seperti pembuatan sel dan enkapsulasi sel surya masing-masing menyumbang 10 dan 25% dari total harga sel surya.


sel-surya-komposisi.jpg

Secara kasar, saat ini, harga sebuah sel surya sekitar US$ 4-5/Watt, belum termasuk pendukungnya. Sehingga jika seorang konsumen hendak membeli sel surya dengan daya 50 Watt, maka perlu menganggarkan biaya sekitar US$ 200-250 (lihat tabel di akhir tulisan).
Agak sedikit melebar, lantas, bisakah kita membuat industri sel surya sendiri agar sel surya bisa lebih mudah terjangkau di pasar sendiri?
Pada dasarnya tentu saja hal ini sangat mungkin dengan beberapa catatan menurut opini saya.
Pertama, pembuatan silikon untuk sel surya atau semikonduktor ialah sebuah usaha padat modal yang sangat besar dari segi investasi. Dan tidak semua negara di dunia yang mampu secara teknologi melakoni pekerjaan besar ini, hanya beberapa negara saja yang mampu membuat silikon dengan kadar yang dibutuhkan maupun wafer silikon, semisal, Amerika, Jerman, Jepang dan Korea. Selain itu, industri pembuatan silikon berkadar tinggi maupun pembuatan wafer silikon ini juga menyedot tenaga listrik yang cukup besar. Namun mengingat bahan dasar silikon seperti pasir silika ini mudah ditermui di Indonesia (lihat kutipan berita Kompas di Blog ini) , dengan dukungan investor dan pemerintah, saya kira kita cukup mampu dalam hal ini. Masak calon PLTN Muria yang heboh 80 trilyun saja kita menyanggupi, membuat sebuah pabrik wafer silikon saja kurang mampu?
Kedua, jika dalam jangka pendek tujuannya ialah memasarkan sel surya sebanyak mungkin, maka kita perlu meniru langkah China dalam memasarkan sel surya di negaranya. Industri-industri China tidak membuat material dasar silikon untuk sel surya ini. Mereka juga tidak memiliki kemampuan dalam membuat mesin-mesin yang dipergunakan pabrik-pabrik mereka untuk membuat sel surya dalam skala besar.
Hanya saja, strategi mereka ialah, mengimpor mesin-mesin pabrik dari Jerman sebagai bahagian dari investasi, serta mengimpor material silikon khusus untuk sel surya dari negaa-negara lain semisal, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Keunggulan komparatif upah pekerja yang murah, membuat sel-sel surya made in China saat ini merajai pasaran sel surya Eropa selain menjadi tuan rumah di negara sendiri. Hal ini saya saksikan sendiri dalam ajang PVSEC-15 di Shanghai, China. Mungkin strategi ini dalam jangka pendek bisa diterapkan di Indonesia. Namun kembali lagi, kita masih menunggu peran investor dan negara dalam hal ini.

2. Biaya perangkat dan pelayanan pendukung.

Memanfaatkan sel surya untuk keperluan apapun membutuhkan perangkat pendukung yang disebut Balance of System (BOS) yang biasanya terdiri atas baterei, inverter, biaya pemasangan serta infrasturktur (lihat gambar berikut). Di sini peran BOS sangat penting sehinga semua ini (Sel surya + BOS) disebut dengan sistem fotovoltaik. Baterei serta pegontrolnya diperlukan untuk meyimpan tenaga listrik untuk pemakaian di malam hari jika diperlukan. Inverter dibutuhkan untuk mengubah keluaran sel surya yang berarus DC menjadi AC sesuai dengan keperluan perumahan. Dan instalasi diperlukan untuk menyelaraskan bentuk (atap) rumah dengan berapa luas sel surya atau daya yang dibutuhkan agar optimal.

bipv-structure-2.jpg

Gambar di bawah ini sedikit menggambarkan berapa porsi anggaran yang dibutuhkan pada saat pemasangan dan perbandingannya pada 20 tahun kemudian. Asumsi memakai 1300 Watt menggunakan baterei 35 Ah. Literatur ini menggunakan negara Meksiko sebagai contohnya.

harga-bos.jpg

Di sana terlihat bahwa komponen baterei yang memiliki masa pakai optimum yang terbatas (sekitar 4 tahun), memerlukan perhatian khusus terutama karena adanya penambahan biaya ekstra untuk penggantian baterei baru.
Secara perhitungan kasar, harga Sel surya + BOS ini mencapai US$ 8-10/Watt. Sehingga jika hendak menggunakan sel surya di perumahan lengkap dengan sarana pendukungnya untuk 1300 Watt atau 1.3 kW, maka biaya kasar yang perlu diperlukan kira-kira 1300 Watt x (US$ 8 – 10) = US$ 10.400 – 13.000 atau jika di-rupiah-kan sekitar Rp 98.880.000 – 117.000.000 dengan masa pakai 20 tahun lebih dan biaya tambahan untuk penggantian baterei per 4-5 tahun sekali.
Tabel di bawah merupakan simulasi perhitungan biaya yang diperlukan untuk memasang sel surya di sebuah rumah dengan kapasitas daya terpasang sebesar 50 Watt. Jika hendak memasang sel surya di rumah dengan daya 1000 Watt mirip dengan rata-rata daya terpasang pada rumah di Indonesia dari PLN, maka harga total tinggal dikalikan saja dengan 20.

tabel-harga-sel.jpg

Semoga bermanfaat.

Rujukan :
Antonio Luque and Steven Hegedus, Handbook of Photovoltaic Science and Engineering, John Wiley and Sons, 2003.
Yasuto Maruoka, Cost effectiveness of solar modules on the international photovoltaic markets, Proceedings of 17th International Photovoltaic Science and Engineering Conference, Fukuoka, Japan, December 2-7, 2007.

listrik

Dokumen cahyamars2008.wordpress.com


penghematan energi adalah salah satu cara yang mungkin paling mudah untuk menyiasati berkurangnya pasokan BBM bagi pembangkit listrik di Indonesia.

Terkait dengan penghematan energi listrik tersebut, Cahya_mars bermaksud untuk berpartisipasi menyediakan fasilitas listrik alternatif di Kota Tulungagung dengan berbagai macam produk yang kami miliki

menyediakan jasa penjualan peralatan hemat listrik diantaranya :

  1. Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS )
Listrik yag dihasilkan berasal dari sinar matahari tersebut dapat menyalakan lampu 10 Watt sebanyak 3 Unit dalam waktu 10-12 Jam (pemakaian hemat) dapat bertahan selama 3 hari (apabila tanpa matahari/hujan/mendung). Dapat menghemat untuk kebutuhan Listrik rumah dan cocok untuk Back-Up, BTS,Pedesaan, Hutan dll yang jauh dari aliran listrik PLN.




b. Pembangkit Listrik Kincir Angin ( PLKA )
Listrik yang dihasilkan dari kincir angin, sosok untuk daerah pesisir dan pegunungan

c. Pembangkit Listrik Micro Hidro ( PLMH )
Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hydro merupakan alat yang menghasilkan listrik dengan menggunakan sumber tenaganya air
Pembangun PLTMH secara terpadu dengan kolam ikan memberikan keuntungan ekonomi yang lebih baik




d. Peralatan komputer hemat Listrik (hanya 3 Watt)

PC-Station adalah sebuah teknologi terbaru yg dpt memaksimalkan sebuah komputer
hingga dapat digunakan secara bersamaan dengan 30User/clien.
Sehingga anda tidak perlu menambah PC / CPU dalam penambahan user/clien.
Dengan menggunakan penghubung swithub/rooter dapat digunakan hingga jarak 100M

Digunakan Untuk kantor, Warnet, Laboratorium, selain hemat litrik juga dapat menghemat biaya pembelias program aplikasi original.
Kami menyediakan produk PC Station, berfungsi sebagai pengganti cpu/client dengan daya listrik 3watt ( bandingkan dengan komputer
dengan daya listrik 150watt hingga 200watt)



sejak 22 03 2010

Opo yo ?